Rabu, 03 Juni 2015

Membongkar Kesesatan Power Ranger



Di suatu pagi di hari kamis yang cerah, mungkin pukul delapan, datang seekor burung ke tiang jemuran tepat diatas tempat gue berdiri tegak. Burung itu kaya lagi melakukan sebuah survey, dia memperhatikan gerak-gerik gue.. Tanpa menaruh curiga sedikit pun, si burung gue abaikan, sengaja gak gue kasih perhatian biar dia bebas ngelakuin apa yang dia mau. Tiba-tiba dalam sekejap si burung seperti menjatuhkan sesuatu ditengah-tengah jidat gue, ”ssrrrrttt...!”
Dengan perasaan sedikit kaget gue menyeka perlahan-lahan benda didahi gue, kental basah..
Gue gunain kemampuan mengendus jarak dekat.. “muh.. muh..”
Baunya mirip bau kunyahan sirih nenek-nenek.. “ish.. taiiiii!!!”, secepat kilat gue mendongakkan kepala gue ke atas, gue memaki-maki si burung “ eh dasar burung babi!”
Burungnya nyicit,.. “koekk koekk.. “
“ah,kampret, ape lo bilang?” gue bentak si burung. Tanpa ngerasa bersalah burung itu terbang riuh-rendah mengelilingi gue.
Dengan amarah dan dongkol, gue ambil hanger jemuran kolor, gue ayun tiga kali lalu gue lempar tuh burung yang terbang terborot-borot, “ koeeekkk koekkkk!!”
“mampus lo!” ekor nya kena keserempet lemparan akurat gue, beberapa helai bulunya lepas.
Si burung kabur sambil ngebalas lemparan gue dengan cepirit terakhir yang dia punya “pletukk!’
“Huahaha Huahaha, Huahaha.. gak kenaaa!! gue tertawa puas liat si burung kabur sempoyongan dari hadapan gue. Akhirnya gue bisa lanjutin jemur cucian dengan tenang.
Dengan perasaan bahagia abis memberi perhitungan sama si burung, gue melangkah pergi ke kebon orang, nyari rumput buat makan si Japra, Anjing ras peliharaan gue. Si Japra ini adalah satu-satunya anjing di dunia yang makan rumput. Perihal asal muasal si Japra ini, dari cerita orang-orang yang gue dengar, dulu ada seorang ahli dalam dunia per-anjingan (dogielogy) melakukan semacam eksperimen nikah beda spesies di kampung gue, namanya Mister Khap, dari Chiang Mai, Thailand. Dia melakukan sebuah riset tentang kawin silang anjing kampung dengan luwak. Katanya konon, eksperimennya berhasil, binatang yang dia kawinkan silang melahirkan  spesies baru bernama Japra.

Memang gak ada bukti yang mendukung kebenaran cerita orang-orang itu, tapi karena gak ada teori lain tentang asal-usul si Japra, teori kawin silang Mr Khap ini jadi semacam kebenaran mutlak yang jadi rahasia semua orang dikampung gue.
Gue sendiri meragukan teori ini, disamping ciri-ciri genetik si Japra yang gak mirip ibunya yang berdarah luwak, Japra sama sekali gak punya kelakuan mirip ayahnya yang anjing kampung itu. Sifatnya yang pemalu dan ramah menunjukkan bahwa dia kehilangan jati diri keanjingannya dalam skala yang memprihatinkan.
Gue pernah melakukan penyelidikan kecil-kecilan tentang siapa Japra sebenarnya. Waktu itu gue mulai dengan membawa dia ke kebon kopi, trus gue paksa Japra makan kopi sama kulit-kulitnya. Dengan sekuat tenaga japra menutup mulutnya sambil geleng-geleng kepala, dia mingkem. Akhirnya gue ngalah, tp tetep gue gak kehilangan akal, gw contohin ke dia caranya,.
Gue ambil kopi segenggam,lalu gue telan.. “pluk!” (dalam hati gue : kaya ada manis-manisnya, mirip iklan air putih kemasan le funeral). Gue melakukanya berulang-ulang sampai Japra akhirnya ngerti apa yang harus dilakuin. Tak berapa lama, dia ngambil kopi itu trus ditelen satu per satu.
Dengan sabar gue menunggu reaksi kimia yang timbul diantara kami berdua. 2 Jam berselang, Japra udah mulai kelihatan gelisah,
“ wah ini pasti mau pup”, pikir gue Tangan gue udah stand by dibawah knalpot Japra, nunggu bagian terpenting eksperimen gue. “plukk....” akhirnya keluar juga.
“Wow,hangatt..!” dengan perasaan terharu penuh kemenangan gue menyambut persembahan dari Japra, ‘sesuatu’ yang bakal menguak silsilah nenek moyangnya kini ada dalam hadapan gue. Segenggam pup Japra telah siap untuk gue selidiki. Perlahan gue letakin diatas sebuah daun lebar, selanjutnya gue korek-korek tuh donat basah pake dahan kering.
 “Kosong ternyata, gak ada biji kopi nya..” gue coba perhatiin sekali lagi, kali ini gue lakuin dengan teliti dan dengan radius yang semakin dekat, sampai-sampai hidung gue hampir nyentuh objek.. “ooaaakkhhh..!” gak tahan lagi hidung gue menahan wanginya yang mirip martabak sungai gangga, akhirnya gue muntah... “ooaakkhhhhh..’ tiba-tiba gelap.. ah gue lemas.
.tik
.tok
.tik
-tok
.tik
.tok
.tik
(berulang-ulang sampai 2.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000juta x)
“Ih geli.. geliii” gumam gue. Gue siuman setelah beberapa tahun gue pingsan. Ternyata Japra lagi jilatin jidat gue. Dengan lirih gue perhatiin sekeliling..
“Saya dimana? “ gak ada jawaban.
“Saya Siapa” masih sama, hanya hening.
Akhirnya gue berdoa biar ingatan gue kembali.
Habis gue komat-kamit, tiba-tiba:
“Tsah! Tsah!”
Petir menyambar-nyambar, kilatnya yang berkilau bagai mutiara didasar bukit olympus merasuk masuk kedalam sanubari gue.
 Gue tersentak seperti kerasukan demit kodok, singkat cerita ingatan gue kembali.
“guk.. guk..” sambut si Japra kegirangan melihat tuannya udah sadar kembali. Gue duduk sejenak, sembari gue perhatiin Japra ngunyah-ngunyah.
“apa yang ada di mulutmu itu wahai Japra ? Bawa sini “ ujar gue.
Japra mendekat, dia membuka rahangnya, mulutnya penuh biji kopi yang udah terkelupas kulitnya. Mata gue terbelalak, otak gue terbelakang, rambut gue terbelah, hati gue terbengkalai semenjak LDR sama Karen, Dengan terbata-bata gue deketin si Japra, gue peluk erat-erat.
“ kita berhasil Japp...raa., ..” gue terisak
“guk.. guuuuuuuuukkk” jawab japra,
“ Ibumu bener seekor luwak!”
“guukkk!!” Japra meninggikan nada gonggongannya, gak seperti biasanya, dia menyundul-nyundulkan kepalanya kepaha gue kaya mau nunjukin sesuatu. Gue beranjak mengikuti dia.
“Apa maksut semua ini?” tanya gue.
“guk!”
“dari tadi Cuma gukk.. guk dan gukkk!! Dasar lu anjing gak jelas asal-usulnya!” gue marah, tiba-tiba langit gelap, mendukung setting kemarahan gue. Dengan wajah merah padam si anjing nyahut bentakan gue:
“lo yang gak jelas!, biji kopi dimulut gue itu dapat dari muntahan lo!!!” (Tiba-tiba anjingnya bisa ngomong)
“wa,wa whaatt? ... lu anjing bisa ngomong?!”
“emang kalo gue anjing kenapa?”
Lah.. bener anjing bisa ngomong...
Tunggu bentar.. “ Apaaaaaa????? “ gue tiba-tiba kaget setengah mati,biarpun gue terlambat kagetnya, dengan sekuat tenaga gue lari dari tkp.
...
...
...
Selama 3 jam gue berlari tanpa henti, sampai gue dicegat oleh seorang kakek-kakek petani.
“Heh BROOOOO!!!, kenapa ente larinya kenceng?” tanya si kakek.
“anu kek, anu..” sahut gue sambil berlari ditempat, karena si kakek ngalangin jalan gue.
“anu apa bro, duduk dulu, ceritain apa yang terjadi” si kakek kemudian mengambil air putih dari bakul nya:
“nih Bro, minuman penyegar caf tiga roda!” lanjut si kakek sambil mengangkat tinggi-tinggi botol minumnya.
“Lo mual gue geli, lo jual gue beli! ngok.. ngok..” gue teguk sampai kandas persediaan minum si kakek.
“ sekarang kamu cerita dong bro” kata si kakek. Sorot matanya tajam menanti tutur cerita gue.
“Gini bro, eh kek.. tadi ada anjing gila bisa ngo’...”
“ Apa?! Anjing gilaa????!!! “
Si kakek tiba-tiba berdiri, dalam hitungan detik dia lari secepat kilat..
Gue cuma bisa terpelongo..
“MANA? MANA ANJING GILANYA!” tiba-tiba dalam hitungan detik si kakek datang lagi bawa kapak sama karung. Gue shock, kenapa tiba-tiba dunia ini seperti panggung iron men,absurdo to the max, semua serba tidak biasa. Anjing bisa ngomong, ada kakek-kakek jompo punya ilmu meringankan badan, bisa menembus ruang dan waktu dalam skala waktu yang tidak bisa dipercaya, apa ini namanya jatuh Cinta? hmm.. sudah kuduga.
“Udahan kagetnya bro, the floor is your!” lanjut si kakek.
“sebenarnya anjing gue bukan gila kek, entahlah apa istilahnya..’’ jawab gue.
“ lah tadi katanya gila, gimana sih, plin-plan ente bro” pungkas si kakek dengan berharap gue kembali ngomong anjing gue gila.
“ gini kek... babbabarababapotueosoottoeltiit-tit-tit.. bam bam bolee” dengan pelan gue ceritain semua perihal kejadian yang gue alami sampai si kakek paham.
Si kakek mangut-mangut, ”ente pinter manjat fuun gak bro?” tanya si kakek.
“fuun apaan kek?
“yang ada batang sama buahnya”
“timun?”
“bukan atuh bro”
“labu?”
“bukan juga bro”
“trus apaan?” aku cape kek, capeeeeekkkk!!” kata gue dengan sedikit marah dan sedikit kesal serta sedikit ke kiri masss! oke pas,jangan berkedip,satu,dua,tiga.. "jepret!
“huahuhauahhaa.. maksud kakek pohon bro, huahuahauaa” sahut si kakek dengan rasa percaya diri tinggi.
Dasar aki-aki gak tau diri, lupa usia udah diambang pintu gerbang pulang. Giliran gue yang ketawa dalam hati “huahuahuahuahua” ngomong pohon aja apa susahnya, pake tebak-tebakan segala, sok romantis banget si aki bangkotan ini.
“bisa sih kek dikit-dikit, emang kenapa kalau bisa manjat pohon? “ jawab gue.
“ Fuun!”
“IAAAAAAA!! EMANG KENAPA KALAU BISA MANJAT FUUN!”
(kalau bukan orang tua udah gue jadiin orang-orangan sawah nih jompo, gue taroh disawahnya Otong Koil, biar dijadiin pelampiasan abis konser, dipukulin pake gitar-gitaran)
“ heuheuheu.. anak muda memang suka meledak-ledak emosinya, heueheueheu” si kakek tertawa lebar.
“ Jadi gini bro, dari cerita ente tadi, kakek ngerasa ada yang ganjil bro. Gini gini.. ente sama anjing ente sama-sama makan biji kopi, betool? “ gue ngangguk.
“dari cerita ente anjing ente negatif punya gen luwak, betol?” gue ngangguk
“anjing ente nemu biji kopi udah terkelupas, betool apa betoll?” gue diam.. aja.
“ Nah.. ITU..!”
si kakek memberikan senyum Indonesia sepsodent, gue gagal paham maksud si kakek.
“ Nak, coba kamu mikir, siapa diantara kalian yang ternyata bisa mencerna dan mengupas kulit kopi itu? Anjing itu gak mungkin, ente sendiri yang bilang, berarti satu-satunya kemungkinan adalah ente bro, ente lah yang sebenarnya keturunan luwak, bukan Japra, anjing ente. Jeckpot (Jackpot = muntahan) ente telah membuktikan segalanya, mueheuehueheuheuehehe”
“Sembarangan nih si kakek, bagaimana mungkin itu terja..”
“ bagaimana bisa terjadi? Huahuauahuaaa... bukankah ente sendiri yang bilang anjing ente bisa ngomong? Bagaimana mungkin itu terjadi? Huahuahuaahua.. jangan standar janda ente bro!” eh ah.. “
Gue hanya bisa geram, tapi gue akui kalau ini semua gak bisa gue jelasin dengan ilmiah, si kakek menang, ibarat ilmu pengetahuan lawan mitos, mitos gak akan pernah menang. Akhirnya gue terima kenyataan, bahwa gue memang menghasilkan kopi luwak dari muntahan kerongkongan gue, tapi sekali lagi itu gak membuktikan apa-apa buat gue. Kembali ke si Japra, dia akhirnya balik lagi sama gue, tapi gue memaksa dia bersumpah bahwa semua hal yang terjadi biarlah menjadi rahasia antara gue, Japra dan kakek yang gue kira gak lama lagi bakal jadi rahasia ilahi juga keberadaannya.
Gue sekarang suka bawa Japra ke kebon, jalan-jalan sekalian nyari rumput. Dia gak pernah bisa makan makanan selain rumput karena dia terinspirasi jadi kuda, binatang idolanya yang sering dia lihat di pilem koboy. Sebenernya gue gak tau kenapa Japra ngotot jadi kuda, sampai suatu kali dia minta dibikinin pelana,
“guk.. guk..!” gonggong sang anjing gue.
“APA?? Bukannya lo bisa ngomong JING!”
“eh, sorry.. lupa, bikinin saya pelana tuan” jawab anjing gue.
“mau ketat, apa longgar?” tanya gue.
“yah, saya gak tau..!”
“Mau ketatttt.. apa longggggaaarr..”
“kan saya belum tauuuuu..”
“Ih.. kZL.. kzl..!” dasar anjing!
Akhirnya sih gue turutin.
Japra akhirnya punya pelana baru, gue gak tau besok-besok dia minta dibuatin apa lagi, yang pasti apapun yang Japra ingini, dia tetaplah seekor anjing, sekalipun bumi berjungkilbalik, dengan latar belakang keluarga apapun Japra tetaplah Japra, dengan ekor dan kaki berjumlah empat. Dan siburung? Gue gak ada urusan.
Kata Japra, kuda keren kalau lagi nyengir “ hee hawww!!”











0 komentar:

Posting Komentar

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com