Sejarah Ekonomi Indonesia
William
J. O’Malley
F.I.E Tan,seorang sejarawan ekonomi Indonesia
pernah mengemukakan bahwa seorang sejarawan yang berminat mengungkap tentang
sejarah ekonomi Indonesia harus mahir dalam teori ekonomi, merupaka seorang
sejarawan profesional, dan memahami berbagai bahasa. Jika seseorang hendak
mncoba melakukan penulisan sejarah ekonomi, ia akan memerlukan keterampilan
dalam hal pengumpulan, penganalisaan, dan pengungkapan data. Agar dapat melakukan
itu semua, maka syarat mutlak yang harus dipenuhi seorang sejarawan ekonomi itu
adalah kombinasi dari pendidikan, kecakapan dan pengalaman yang luar biasa. Ia
harus memenuhi standar kaum profesional dari berbagai disiplin yang
masing-masing menaruh norma yang berlainan dan mempunyai kebutuhan yang berbeda
dalam hal penilaian. Dalam keadaan demikian, tidaklah terlalu mengejutkan bahwa
ternyata sangat sedikit orang yang berani menyebut dirinya seorang sejarawan
ekonomi Indonesia.
Cara sejarah Indonesia dipahami dan diajarkan sangat mengandalkan berbagai parameter mengenai perniagaan dan administrasi yang cukup rumit dan bersifat ekonomis.
Cara sejarah Indonesia dipahami dan diajarkan sangat mengandalkan berbagai parameter mengenai perniagaan dan administrasi yang cukup rumit dan bersifat ekonomis.
Untuk mengukur betapa
dalamnya pertimbangan ekonomi dalam pembahasan sejarah Indonesia,William J.
O’Malley membandingkan dua buku pengantar mengenai doal ini, yaitu karya J.D.
Legge Indonesia (1964) dan karya M.C.
Ricklefs A History of Modern Indonesia
(1981). Kedua buku ini ditulis dengan pendekatan yang berbeda, Legge misalnya, dia
menulis dengan menggunakan pendekatan analistis dan khusus menyoroti soal
ekonomi. Sebaliknya buku Ricklefs menyoroti aneka peristiwa politik dan
tokoh-tokoh politik. Kedua buku itu bukan semata-mata mengungkapkan apa yang
telah terjadi di Indonesia, tetapi lebih dalam menunjukkan upaya untuk memahami
lalu menjelaskan bagaimana segala sesuatu berlangsung di nusantara ini.
Buku ini berupaya menganalisa beberapa masalah penting dalam perkembangan Indonesia yang berurat akar pada masa lampau, sehingga harus menggarap soal-soal yang langsung berkaitan dengan sejarah ekonomi. Kaitan sejarah ekonomi pedesaan ternyata penting sekali dalam berbagai telaah kesejarahan Indonesia. Namun, dalam hal ini bukanlah para sejarawan ekonomi yang berikhtiar mengikuti perkembangan di daerah pedesaan, melainkan orang-orang yang menaruh minat terhadap status pedesaan sekarang dan masa lampau, yang menyadari perlunya data ekonomi dan metode analisa ekonomi dalam karya mereka.
Aneka persoalan dan pandangan ekonomi telah memperjelas sejarah Indonesia. Buku ini membahas keadaan sejarah ekonomi Indonesia selama zaman penjajahan Belanda. Tujuan buku ini adalah untuk memahami dan mengetahui bagaimana pemahaman umum mengenai sejarah Indonesia. Memang terdapat beberapa karya sejarah ekonomi Indonesia pada saat Belanda masih berkuasa,namun perlu diketahui bahwa karya-karya itu memiliki kelemahan. Sistem Tanam Paksa menjadi kajian yang banyak menghasilkan tulisan yang serius mengenai perkembangan ekonomi di pulau Jawa. Tulisan-tulisan tersebut memberi sumbangsih yang penting bagi catatan sejarah,walaupun tulisan itu umumnya bersifat berat sebelah,liputannya terbatas dalam hal waktu,tempat dan permasalahan.Namun terdapat juga karya-karya profesional yang mulai muncul pada permulaan abad ke 20.
Clive Day, seorang ilmuwan Amerika menulis The Policy and Administration of the Dutch in Java (1904), merupakan salah satu sejarawan ekonomi yang tulisannya seharusnya menjadi tolak ukur karya sejarah Indonesia berikutnya,karena menggunakan patokan analisa yang jelas dan mantap. Tokoh lain yang juga menulis tentang sejarah Indonesia adalah Boeke, yang menulis disertasi mengenai sejarah Indonesia (Boeke 1910). Ia menuliskan pentingnya peranan kapitalisme Barat atas masyarakat prakapitalis setempat. Beberapa karya lain muncul setelah Boeke, yaitu karya yang ditulis tiga orang pejabat pemerintahan jajahan di Indonesia. Van Dorm menulis tentang Purworejo (1926), Dr. De Vries menulis Pasuruan (1931) yang membahas tentang perekonomian Indonesia pada tingkat lokal. Penelitian sejarah ekonomi pada tingkat lokal juga dilakukan oleh D.H Burger, ia menulis sejarah ekonomi lokal tentang dampak perluasan ekonomi terhadap kehidupan di pulau Jawa (1939).
Kemajuan besar telah
dicapai dalam penelaahan sejarah ekonomi Indonesia belakangan ini,
gagasan-gagasan sejarah ekonomi mulai menyingkapkan cacat-cacat yang terdapat
dalam pandangan mengenai sejarah Indonesia lama. J.C. Van Leur telah mengurai
berbagai persoalan kebudayaan yang rumit. Ia menggabungkan wawasan ekonomi dan
sosial disertai pemahaman mengenai data
perdagangan. Van Leur menuliskan proses-proses perubahan dalam zaman lampau
orang Indonesia. Selain Van Leur. Karya lain,yang tidak bisa diabaikan dalam
sejarah ekonomi Indonesia adalah tulisan dari J.S. Furnivall. Ia menulis buku
tentang kemajuan ekonomi penjajahan yang menggambarkan perubahan-perubahan yang
telah dialami oleh masyarakat Indonesia.(Furnivall 1944).
Jadi selama empat
dasawarsa terakhir dari zaman penjajahan Belanda, telah terdapat berbagai
sumbangan penting untuk memahami sejarah ekonomi Indonesia. Selain sekedar
mengetahui ekonomi Indonesia pada masa lampau, para ilmuwan, mulai dari Day
sampai Furnivall, secara progresif telah mengembangkan suatu rangka dasar yang
tepat untuk pemikiran mengenai periode penjajahan dalam sejarahIndonesia. Perlu
dipahami bahwa dengan tulisan dan karya mereka, kita dapat melihat sebuah
benang merah,bahwa mereka menyusun semacam agenda untuk pemikiran masa depan.
Agenda mereka sangat mempengaruhi penulisan dan pemikiran mengenai sejarah
ekonomi Indonesia pada masa sesudah kemerdekaan. Periode keterlibatan bangsa
Eropa yang cukup panjang di Indonesia membuat para sejarawan membagi-bagi
sejarah ekonomi Indonesia ke dalam bagian-bagian yang lebih mudah digarap.
Dan karena para sejarawan ini memusatkan perhatian pada masalah ekonomi,maka pembagian itu didasarkan dengan memikirkan masalah ekonomi dan kebijakan-kebijakan ekonomi, sehingga mereka mengotak-ngotakkan masa keterlibatan Belanda di Indonesia selama 250 tahun itu, secara berurutan dalam periode:
Dan karena para sejarawan ini memusatkan perhatian pada masalah ekonomi,maka pembagian itu didasarkan dengan memikirkan masalah ekonomi dan kebijakan-kebijakan ekonomi, sehingga mereka mengotak-ngotakkan masa keterlibatan Belanda di Indonesia selama 250 tahun itu, secara berurutan dalam periode:
Periode VOC
(1600-1800), periode yang oleh Furnivall disebut dengan zaman “kekacauan” dan
“ketidaktentuan” (1800-1830), periode Sistem Tanam Paksa (1830-1870), zaman
Liberal (1870-1900), zaman Etika (1900-1930), dan zaman Malayse (1930-1940).
Semua sejarawan dalam periode tersebut, memfokuskan penulisannya tentang
perkembangan pulau Jawa. Sebagian besar karya profesional sejarah ekonomi
bersifat Jawa-sentris.
Dari sekian banyak
karya-karya tersebut, pada hakekatnya, hanya seorang penulis saja yang cukup
berani menunjukkan dalam judul karyanya bahwa ia berupaya membahas sejarah
ekonomi, yakni Dr. G.L. Gonggrijp dengan karyanya Schets eener economicsche
geschiedenis Van Nederlandsch Indie (Gambaran Sejarah Ekonomi di Hindia
Belanda). Karya itu menyajikan berbagai rangkuman serba-ringkas mengenai
perubahan-perubahan ekonomi di Indonesia selama zaman penjajahan Belanda.
Kesulitan- Kesulitan Dalam Menulis Sejarah Ekonomi
Penulis-penulis sohor
ini memberi gambaran betapa sulitnya menulis dan berfikir tentang sejarah ekonomi
murni, dibanding dengan karya sosial-ekonomi, ekonomi politik, dan ekonomi yang
digabung dengan ilmu lainya.
Para sejarawan ekonomi
diharapkan pada kesulitan memperoleh sumber,bahwa untuk memperoleh data, mereka
semata-mata tergantung kepada sumber-sember resmi saja. Hal ini menjelaskan
bahwa sejarawan ekonomi terkungkung oleh bahan yang mereka miliki, itu jelas
berbeda dengan pendekatan sosial ekonomi yang bisa menggunakan sumber-sember
alternatif. Mereka juga dihadapkan pada kebutuhan untuk mengimbangi
kecenderungan-kecenderungan jangka panjang dan gejala-gejala jangka pendek yang
membutuhkan analisa secara mendalam dan komprehensif. Indonesia bersifat sangat
heterogen dan kompleks, sehingga para sejarawan ekonomi dihadapkan pada
persoalan yang serba-rumit. Bagaiman sulitnya mereka harus mengintegrasikan
informasi dan gagasan-gagasan mengenai berbgai perkembangan pada lokasi
geografis yang berlain-lainan dan pada berbagai lapisan masyarakat.
Dengan berbagai persoalan itu, tidak heran jika pada kenyataanya tidak banyak yang menaruh minat terhadap sejarah ekonomi ini. Menyadari adanya kebutuhan yang semakin luas terhadap penjelasan situasi ekonomi di Indonesia pada masa penjajahan, maka Van Niel dengan karyanya mengenai Sistem Tanam Paksa (Van Niel,1964, 1969) layak mendapatkan kehormatan sebagai salah satu sejarawan ekonomi Indonesia terbaik. Memahami sejarah ekonomi Indonesia pada masa lampau mengemukakan persoalan-persoalan penting yang saling berhubungan hingga sekarang. Keterkaitan masa lampau perekonomian Indonesia dengan perekonomian masa kini dan masa depan dapat diurai dengan memgetahui masa lampau.
Berkembangnya Minat Sejarawan Terhadap Sejarah Ekonomi
Pada awal 1970-an,
minat terhadap sejarah ekonomi mulai berkembang, mungkin karena makin mudahnya mendapatkan arsip dan bahan-bahan
yang bersifat administratif juga sudah tersedia untuk umum. Selain itu,
meningkatnya keterampilan profesional dikalangan juru arsip, pekerjaan para
peneliti sangat dipermudah, sarana dan infrastruktur penunjang penelitian
tersedia dan memungkinkan sejarawan memanfaatkan sumber-sember sejarah secara
efisien. Piet Creutzberg merupakan salah seorang tokoh yang menyimpan dan
menyediakan bahan-bahan dan sumber penting berkaitan dengan perekonomian
Indonesia pada masa penjajahan. Dalam usaha hebat, Creutzberg telah berhasil
memantapkan dasar-dasar penulisan sejarah ekonomi Indonesia di masa depan.
Persoalan mengenai pertanyaan “mengapa sebuah negara menjadi terbelakang?” tentu adalah sebuah pertanyaan yang membutuhkan jawaban dari sejarah masa lampau negara tersebut.
Persoalan mengenai pertanyaan “mengapa sebuah negara menjadi terbelakang?” tentu adalah sebuah pertanyaan yang membutuhkan jawaban dari sejarah masa lampau negara tersebut.
Onghokham (1975)
menulis sebuah tesisi tentang kota Madiun pada abad ke-19, tentang pentingnya
peranan lahan dalam masyarakat pedesaan. Rush (1975) menganalisa sistem
penjualan candu, yang merupakan salah satu sumber pendapatan penting bagi
pemerintah kolonial. Anne Booth, menganalisa tentang irigasi dan pajak bumi di
Indonesia (Booth 1974, 1977)
Sementara itu,sejarah ekonomi juga ditulis di daerah di uar pulau Jawa. Thee (1977) menelaah perubahan ekonomi di Pantai Timur Sumatera, yang dialami oleh perkebunan-perkebunan besar. Dobbin (1974, 1977, 1983) memperjelas peranan ekonomi dalam sejarah sosial dan politik di Sumatera Barat sekitar awal abad ke-19. Di daerah timur Indonesia, Van Der Kraan (1980) menjelaskan tentang keadaan di Lombok sebelum dan sesudah dikuasai Belanda. Lalu Sutherland dan Bigalke dalam sekumpulan esai disunting oleh Reid (1983), mengemukakan makna ekonomi dan sosial perbudakan di Sulawesi Selatan.
Sejak awal dasawarsa 1970-an, berbagai sumber baru, peneliti-peneliti baru, dan garis-garis penyelidikan baru, telah dikaitkan dengan pembaruan dalam hal penkajian sejarah ekonomi Indonesia. Indonesia melakukan kerjasama dengan Australian National University (ANU) dalam hal penelitian ekonomi masa lampau Indonesia.
Harapan Kebangkitan Sejarah Ekononomi Indonesia
Beberapa buku dan karya ilmiah sejarah telah berhasil menggambarkan masa lalu Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Selama lebih dari satu abad, pada umumnya orang memahami bahwa Tanam Paksa merupakan sebuah eksperimen yang sangat jahat, dimana orang-orang Belanda memaksa kaum petani Indonesia membudidayakan tanaman untuk ekspor dan memanfaatkan keuntungannya bagi kemajuan ekonomi di negerinya sendiri, sementara mereka merajalela diatas kesengsaraan yang mendalam dari rakyat yang ditindasnya. Elson, seorang sejarawan dengan terperinci menilik alasan yang mendasari “ kenapa sistem tanam paksa dikalangan penduduk Jawa telah melahirkan kecaman-kecaman terhadap Belanda”.
Ditahap ini Elson menjelaskan bahwa data dan logika yang mendasari alasan-alasan itu sangat lemah. Bukti yang dikumpulkannya malah menjelaskan sebaliknya, bahwa kesejahteraan penduduk Jawa sesungguhnya telah meningkat selama masa berlangsungnya sistem tersebut.
Menurutnya masyarakat Jawa pada masa itu mendapatkan lebih banyak kesempatan untuk bergerak dan menentukan kedudukan ekonomi mereka sendiri dan memperbaiki keadaan materialnya. Hal itu dibuktikan oleh statistik yang menggambarkan bahwa sejumlah besar uang mengalir kepada petani Jawa yang terlibat dalam sistem tersebut.
Memang karya Elson ini tidak mendapat dukungan dari Knight dan Van Niel, malah justru saling berlawanan. Menurut Knight, melalui penelitiannya di sebuah daerah kecil di Pekalongan, tetap berpandangan bahwa orang Jawa tetap saja dipaksa untuk membuat pilihan-pilihan ekonomi, kebutuhany yang meningkat mendorong keterlibatan mereka dalam pasar yang lebih luas. Keterlibatan petani yang terperangkap dalam jaringan Sistem Tanam Paksa, menyingkapkan kenyataan bahwa mereka menanggung keuangan dan tenaga, yang banyak mengurangi pendapatan yang akan mereka peroleh, andaikata hanya dihitung berdasarkan angka statistik saja, seperti yang ditulis Elson. Van Niel, membantah pernyataan Elson, “jika benar penduduk Jawa berhasil memperbaiki keadaanya selama sistem ini berlangsung, berapa jumlah mereka itu?” “Siapakah sebenarnya mereka itu?” dan “Berapa banyaknya kepentingan orang lain yang dikurbankan jangka panjang dan jangka pendek ?”
Ada dua lagi karya telaahan mengenai sistem tanam paksa di Sumatera Barat (Young) serta tanaman kopi di dataran tinggi Cirebon (Fernando dan O’Malley). Young menyoroti perbedaan cara penerapan sistem Tanam Paksa di luar Jawa, bagaimana Sistem Tanam Paksa menjadi sesuai dengan lembaga sosial dan politik di tanah Minangkabau. Ia menunjukkan betapa pentingnya pertimbangan politik-militer dalam pandangan orang Belanda mengenai pelaksanaan sistem ini di Sumatera Barat, di pulau Jawa malah tidak penting bahkan dengan jumlah penduduk yang berlipat-lipat. O’Malley juga mengungkapkan bagaimana kaum pemuka lokal menarik manfaat dari penyelenggaraan Sistem itu untuk mengukuhkan kedudukan mereka ditengah-tengah masyarakat.
Berbeda dengan Elson, Knight, Van Niel, Young, dan O’Malley yang lebih banyak menggunakan kepustakaan sekunder, Boomgaard menuliskan sebuah makalah yang semata-mata disdasarkan pada data statistik yang ia peroleh dari berbagai sumber resmi. Boomgaard menjabarkan angka dan rasio untuk sejumlah daerah keresidenan di pulau Jawa bagian Utara dan Barat, dari tahun 1815-1875. Masa itu menunjukkan kecenderungan berkurangnya luas lahan pertanian untuk setiap keluarga, kemerosotan hasil panen padi untuk setiap unit lahan yang ditanami, serta juga persentase keluarga yang memiliki tanah.Penyorotan yang berpusat pada Sistem Tanam Paksa itu menunjukkan betapa banyak perubahan arah yang berlangsung dalam sejarah ekonomi selama beberapa dasawarsa.
Anne Booth menguraikan usaha pihak penguasa untuk mengatur perekonomian tanah jajahan, perluasan ekspor dan pertumbuhan produksi yang dialami Indonesia. Booth juga melakukan studi perbandingan sesama negara jajahan di Asia dan Afrika untuk menemukan jawaban persoalan-persoalan yang dihadapi Indonesia. Booth sampai pada kesimpulannya yaitu “ Benar, perdagangan memang menimbulkan pertumbuhan. Sesunguhnya pemerintah jajahanlah yang terutama berkewajiban membagikan manfaat itu dengan menimbulkan pertumbuhan pada awal abad ke-20, namun pemerintah tak cukup mantap untuk memelihara pertumbuhan yang berlangsung pada masa penjajahan itu”. Booth menuding ketidakmampuan pemerintah menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi itu menyebabkan tidak berkembangnya ekonomi Indonesia pada masa penjajahan.
Jan Van Laanen,
mengungkapkan garis-garis besar mengenai lembaga-lembaga terpenting yang
mengurus penyediaan kredit di Indonesia pada zaman penjajahan. Dimulai dari
Javasche Bank yang memiliki ciri sebagai Bank Sentral, sampai pada
lembaga-lembaga swasta yang melayai kepentingan orang-orang eropa dan
badan-badan komersial serta penyediaan kredit kepada penduduk Indonesia, dan
akhirnya juga perjanjian-perjanjian terselubung dengan kaum rentenir cina.
Selama masa penjajahan Belanda, pengintegrasian ekonomi tanah jajahan, menurut Dick menggabungkan beberapa realitas mengenai produksi, perdagangan, dan pengangkutan kapal laut, melukiskan betapa sifat Nusantara ini jauh dari suatu satuan ekonomi tunggal. Ini menjelaskan bahwa pemerintah tidak punya ikhtiar untuk mencapai perekonomian yang terpadu dan terkoordinasi.
Hal ini juga masih bisa kita rasakan sampai masa pemerintahan Joko Widodo, integrasi ekonomi Nusantara ini baru-baru ini saja mulai digalakkan, merupakan salah satu hasil studi tentang sejarah masa lampau Indonesia.
Selama masa penjajahan Belanda, pengintegrasian ekonomi tanah jajahan, menurut Dick menggabungkan beberapa realitas mengenai produksi, perdagangan, dan pengangkutan kapal laut, melukiskan betapa sifat Nusantara ini jauh dari suatu satuan ekonomi tunggal. Ini menjelaskan bahwa pemerintah tidak punya ikhtiar untuk mencapai perekonomian yang terpadu dan terkoordinasi.
Hal ini juga masih bisa kita rasakan sampai masa pemerintahan Joko Widodo, integrasi ekonomi Nusantara ini baru-baru ini saja mulai digalakkan, merupakan salah satu hasil studi tentang sejarah masa lampau Indonesia.
Makalah terakhir dalam buku ini adalah sebuah esai ringkas yang ditulis oleh Angus Maddison (1930-an). Maddison secara umum menunjukan bahwa besarnya ketergantungan Indonesia terhadap ekspor menyebabkan jajahan Belanda ini lebih peka terhadap akibat masa depresi Besar daripada tanah jajahan lain. Angus maddison yang mengukuhkan pendapat Booth tentang mahalnya biaya pemerintah jajahan di Indonesia, menyiratkan betapa pentingnya peranan golongan Belanda dalam perekonomian Indonesia, serta betapa besarnya pendapatan Belanda dari negeri jajahan bernama Indonesia.
Kesimpulan
Pada salah satu sisi
terdapat karya-karya dari penulis yang menempuh pendidikan kesejarahan yang
serius, pada sisi lainya terdapat makalah-makalah hasil penulisan ilmuwan
sosial,dan para ekonom. Tidak sulit untuk membedakan keduanya. Para sejarawan
selalu memulai dengan suatu gambaran umum tentang masa lampau Indonesia,
kemudian mereka akan mengoreksi berbagai aspek yang mereka pandang menyesatkan,
dan mereka tidak akan menyimpang dari bukti-bukti yang tersedia, yang
senantiasa mereka uji. Sebaliknya ahli-ahli sosial akan mulai dengan gagasan,
bagaimana hendaknya masyarakat dan perekonomian bekerja secara sistematik,
kemudian mereka akan memeriksa data yang telah terkumpul untuk mencari
pola-pola atau kelainan yang perlu dijelaskan. Mereka akan jauh lebih bereni
membuat generalisasi ataupun mengakui adanya kelemahan-kelemahan tertentu, lalu
bergerak maju tanpa mengindahkan kelemahan-kelemahan itu.
Dalam hubungannya dengan kelincahan dalam menggarap masa lampau, seorang sejarawan mengitari soal masa lampau itu dan bersedia menerimanya sebagaimana adanya, sedangkan para ekonom khusunya,mereka lebih aman bila sekali-kali dapat mengalihkan pandangan kepada keadaan masa kini. Sejarawan, pada umumnya akan tetap memiliki rasa ragu-ragu dengan penggunaan angka-angka resmi dari sumber pemerintah, khususnya yang menyangkut soal penduduk, lahan pertanian, dan produksi hasil bumi. Oleh para ilmuwan sosial, angka-angka itu diterima saja sebagai bahan terbaik yang tersedia dan menggunakannya seolah-olah angka tersebut sungguh-sungguh menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Sebaliknya sejarawan akan menguji angka tersebut dengan bahan informasi lain yang ada,lalu menjelaskan kesulitan-kesulitannya dan berusaha mengolah angka-angka itu. Sekalipun mereka hati-hati dalam menangani masalah-masalah statistik mereka enggan pula mengabaikannya. Bagi ilmuwan sosial, seringkali angka-angka itu dipandang sebagai angka tak berguna yang tidak dapat dicocokkan dengan teori yang mereka anut.
Dalam hubungannya dengan kelincahan dalam menggarap masa lampau, seorang sejarawan mengitari soal masa lampau itu dan bersedia menerimanya sebagaimana adanya, sedangkan para ekonom khusunya,mereka lebih aman bila sekali-kali dapat mengalihkan pandangan kepada keadaan masa kini. Sejarawan, pada umumnya akan tetap memiliki rasa ragu-ragu dengan penggunaan angka-angka resmi dari sumber pemerintah, khususnya yang menyangkut soal penduduk, lahan pertanian, dan produksi hasil bumi. Oleh para ilmuwan sosial, angka-angka itu diterima saja sebagai bahan terbaik yang tersedia dan menggunakannya seolah-olah angka tersebut sungguh-sungguh menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Sebaliknya sejarawan akan menguji angka tersebut dengan bahan informasi lain yang ada,lalu menjelaskan kesulitan-kesulitannya dan berusaha mengolah angka-angka itu. Sekalipun mereka hati-hati dalam menangani masalah-masalah statistik mereka enggan pula mengabaikannya. Bagi ilmuwan sosial, seringkali angka-angka itu dipandang sebagai angka tak berguna yang tidak dapat dicocokkan dengan teori yang mereka anut.
Ciri lain dari kumpulan
tulisan dalam uku ini adalah bahwa perhatian terkuat dipusatkan dipulau Jawa.
Hal ini tidak mengherankan, mengingat pentingnya kedudukan pulau ini dalam
kegiatan administrasi Belanda, dan juga mengingat kenyataan bahwa kekuasaan Belanda
belum masuk di daerah luar pulau Jawa sampai pada akhir abad ke-19, akibatnya
ialah bertambah timpangnya pandangan Jawa-sentris pada keseluruhan sejarah
Indonesia.

0 komentar:
Posting Komentar