Rabu, 15 Juli 2015

Kita Kuning dan Mengambang



Ini kampus gue,sederhana tapi sangat istimewa.
Gedungnya tiga lantai, dan dicat kuning cerah.
Ada satu toilet untuk seribu mahasiswa, terletak dilantai bawah deket dapur pegawai, dan satu toilet untuk dosen dilantai dua.
Toilet itu mengandung filosofi yang sangat tinggi, menjelaskan secara tersirat bahwa tempat pup mahasiswa gak boleh lebih tinggi dari tempat pup dosen.
Untuk toilet ini, ada peraturan mahasiswa gak boleh nyicip pup di toilet dosen, tapi sebaliknya dosen bisa keluar masuk toilet mahasiswa tanpa perlu bayar boarding pass.
Kampus gue terkenal dengan sebutan kampus Texas, bukan karena ada Ipang yang jadi koboi disana, bukan juga karena banyak kuda binalnya, tapi alasan utamanya adanya karena ditempat ini tidak ada peraturan sama sekali yang membatasi kebebasan berekspresi dan tidak berekspresi.
Yang bikin gue betah berada dikampus hingga hampir enam tahun adalah karena kondisi geografisnya strategis, situasi politiknya kondusif dan kondisi ekonomi yang aman terkendali. Kampus gue terletak di jantung peradaban Undip, dengan sebelah depan berhadapan dengan gedung utama kampus FIB, sebelah belakang ada hutan ilalang dan gedung rektorat, sebelah kanan berbatasan dengan pohon mangga, sebelah kiri dengan FISIP dan Hukum, dua kampus produsen pemudi berkualitas kw super.
Kampus gue termasuk pengusung konsep go green, dengan beberapa pohon didepan gedung dan beberapa dibelakang, kalau  dijumlah.. beberapa + beberapa = sejuk.
Kalo gak salah kampus gue disebut kampus Sejarah, terlihat dari bangunannya yang paling klasik se universitas dan fasilitasnya yang menggambarkan keadaan kampus dijaman Mesir kuno.
Gedungnya yang kecil menggambarkan bahwa kami sangat menjunjung azas kesederhanaan dan keprihatinan dalam menimba ilmu,
Fasilitasnya yang masih akreditasi D menunjukkan keteguhan kampus dalam menjunjung teori bigbang:
( so, There was nothing and nothing happened to nothing and then nothing magically exploded for no reason, creating everything and then a bunch of everything magically rearranged itself for no reason what so ever into self-replicating bits which then turned into dinosaurs ).
Disamping kebaikannya, ada juga kekurangan kampus gue, seperti gak menyediakan ruang tidur siang, sehingga banyak mahasiswa yang sebenarnya membutuhkan tidur siang tapi tidak diberi haknya, akhirnya melampiaskannya dikelas
(Mohon permintaan ini dibahas di parlemen, kemungkinan situasi ini gak cuma ada dikampus gue).


Mahasiswa-mahasiswa disini beragam, merepresentasikan budaya dari seluruh dunia dan Bekasi.

Ada banyak yang datang dari daerah Barat, dari Timur ada sedikit, dan dari Tengah dominan secara kuantitas.
Beberapa dari dosen gue adalah Jawa, beberapa lainya Jawa juga, jadi 100% mereka adalah Jawa. Gak heran kami sebagai mahasiswa luar negeri sangat terbantu beradaptasi dengan bahasa setempat yang sering digunakan beberapa dosen sewaktu mengajar di kelas-kelas.
Ini sangat membantu proses bersilaturahmi, tapi belum diuji manfaatnya pada tingkat pembelajaran dikelas yang memiliki mahasiswa yang heterogen.

Banyak hal yang bisa gue banggain dari jurusan gue ini, diantaranya kami gak ada  praktikum seperti mahasiswa jurusan lain.
Keunggulan lainnya adalah standart lulusan kami yang sangat tinggi dalam hal mencari pekerjaan setelah kuliah.
Banyak perusahaan dan instansi yang tidak melakukan perekrutan terhadap lulusan jurusan gue, mungkin mereka sadar sangat susah mempekerjakan para jenius yang memiliki kemampuan hadir dimasa lalu, ( punya mesin waktu)
Brosur dan selebaran lowongan kerja bertebaran dimana-mana, mencantumkan kebutuhan mereka akan profesional lulusan universitas, biasanya menerima lulusan jurusan apa aja,kecuali jurusan gue. Pilihan para perusahaan ini sangat tepat, apalagi kalau usaha mereka berorientasi masa depan, sangat gak cocok sama gue, yang berorientasi masa lampau.
Untuk itu, sebagai mahasiswa pemikir, gue dan temen-temen gue udah nyiapin masterplan setelah lulus kuliah, (baca: kalau lulus kuliah), yaitu kami akan berserah kepada takdir yang maha kuasa.
Gue gak pernah tau kenapa kami diperlakukan begitu berbeda, kenapa banyak yang memandang seperempat mata terhadap bidang ilmu yang kami tekuni?
Apa kami ke bank pake kunci pas untuk membuka rekening bank?
Apa kami para lulusan kampus barokah ini pergi ke tempat tidur bawa penggaris hanya untuk mengukur lama kami tidur?
Apa kami dididik untuk mengecilkan suara tipi hanya untuk membaca running text tipi itu sendiri?
Apa anak didik jurusan sejarah tipe orang yang menyemprotkan baigon ke dirinya sendiri cuma buat ngusir nyamuk?
Hanya gue, temen-temen gue dan Tuhan yang bisa menjawab. Ini adalah bentuk kurangnya penghargaan di negeri ini terhadap orang yang berdedikasi mencatat dan menjaga memori masa lampau peradaban manusia.
Tapi bukan cuma itu yang bikin gue kesal, kurangnya pemudi yang bening dikampus gue akui memicu kemalasan masuk kuliah. Gak banyak yang bisa dilirik disini.
Kabar burung bilang kalau disebuah tempat gak ada keseimbangan antara energi kebeningan dan energi kebahenolan, maka dipastikan tempat itu akan gersang, gak ngerti juga gue artinya.
Gue juga jadi gak pernah tau kalau gue punya jantung, karena gak pernah berdegup selama dikampus. Pada akhirnya memang gue tau jantung gue ada, saat itu di kampus sebelah ada acara musik mirip dangdut.
Disitu gue dan temen-temen lagi duduk disebuah stan minuman kurang bergizi, tiba-tiba ada seorang pemudi dan temennya berlari-lari kedepan, mendekat kearah  tempat kami duduk. "Bakal deras ini bentar lagi" kata yang satu ke yang lain sambil melihat ke atas,
Belum selesai mereka berbicara,  Duuaarrrrr!" kilat yang dilanjutkan bunyi petir memecah keramaian.
Gue kaget dan jantungan hampir setengah mati, itulah pertama kali jantung gue berdebar di kampus.
Mahasiswa dengan segala bentuknya,dengan berbagai macam gaya hidup, berserakan disini.
Banyak yang serius belajar, banyak yang serius...tidur.
Akhirnya gue tau begitu banyak orang yang lebih pintar dari gue dan juga  begitu banyak orang yang sama bodohnya kaya gue.
Apa yang terjadi disini, udah semestinya demikian. Ilmu, relasi, dan apapun yang menjadi motivasi kesini, itulah yang terpenting.
Bukan kampus yang dibutuhkan seseorang untuk mendapatkan hidup, tapi kampus merupakan satu-satunya tempat yang menyediakan ayam kampus.

Semarang, abad 21.

0 komentar:

Posting Komentar

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com