Selasa, 11 November 2014

Syafaat Untuk Nusa



Kidung Duka Untuk Ophir
Negeri ini tidak asing..
Tempat aku berdiri sekarang, dulu adalah pepohonan lebat dan bunga-bunga yang bermekaran. Semua sudah musnah dengan sempurna. 
Sungguh aku telah melihatnya menjadi puing-puing dan gundukan besi... Dan kini aku kembali, dari seribu tahun kepergianku.
Hanya gunung ini yang tersisa dan menjadi satu-satunya petunjuk masa lalu bagiku. Aku berjalan menapaki tanah ini, menaiki gunung megah yang kini hanya beberapa langkah dihadapanku.
"Wahai gunung Ophir yang agung, yang namamu tersohor diantara bangsa-bangsa, yang padamu mereka menggantungkan hidup, tanpa engkau sadari engkau pula yang membinasakan mereka...
Dari atas puncakmu ini jelas kulihat semua sisa-sisa kemarahanmu.. Hamparan tanah tandus dan lubang-lubang besar menutupi pilar-pilar kota yang dulu berdiri megah dibawah kakimu... Kini semua jelas dihadapanku, laksana penyambung murka Yang Maha Kuasa, engkau telah memusnahkan kenangan masa kecilku yang masih melekat samar-samar dikepalaku. Engkau mengambil kebahagiaan dari seluruh mahluk yang bernafas dibawah naungan pepohonanmu"
Negeri yang dahulu kuimpikan akan menjadi pusat peradaban kini telah berada dalam genggaman para musuhnya, dan engkaulah penyebabnya!.
Hujan api dan gumpalan batu yang kau muntahkan telah menjadi rebutan bangsa-bangsa. Para penyamun dari delapan penjuru mata angin tidak henti-hentinya mengacungkan pedang dan menumpahkan darah mereka demi merebutmu, wahai gunung terkutuk! hingga ratapan kami kini lebih keras dan pedih dibandingkan saat engkau menghancurkan kehidupan kota ini dahulu..!".

Duka Nusa Hari Ini
Ah, betapa terpencilnya kota ini, yang dahulu ramai! Bagai seorang janda, yang pernah agung di antara di antara kota-kota, sekarang menjadi tanah jarahan. Pada malam hari tersedu-sedu ia menangis, air mata darah memenuhi pipi manisnya, tak ada yang menghiburnya.
Semua bangsa menjadi seterunya, dan yang dulu menjadi sahabatnya kini mengkhianatinya. Nusa telah ditinggalkan penduduknya yang sengsara karena perbudakan yang sangat berat dan keji. Dari segala arah dia terdesak, dan siapapun yang mau masuk dengan sesuka hati bisa melakukanya.
Jalan-jalan kota ini diliputi dukacita, rombongan Raja-Raja dan Panglima-Panglima pembawa persembahan dan upeti dari negeri langit dulu sering lewat jalan ini, kini sudah tiada.
Sunyi senyaplah segala pintu gerbangnya, berkeluh kesahlah para pewaris tahta; bersedih pedih lah anak-anaknya yang kini berjalan lunglai sebagai tawanan; dan dia sendiri pilu hatinya tak terperi, musuh-musuh mu terlihat berbahagia!
Benarlah yang disampaikan para tetua dalam puisi-puisi mereka, Raja-Raja mu lah yang membuatnya merana, karena banyak pelanggaran yang mereka perbuat dengan sengaja. Sekarang, lihat.. lenyaplah dari Putera-Puterimu segala mahkota dan kemuliaan.

Terkenanglah Sumatera, pada hari-hari sengsara dalam penderitaannya, akan segala kemashyuran dan harta benda yang dimilikinya dahulu kala.
Kutunjukkan padamu yang kulihat ya Ophir, bahwa kini semua jatuh ke tangan lawan, dan tak ada penolong bagi negeri ini, para lawan memandangnya hina dan tertawa karena keruntuhannya.
Mereka, para Raja itu, tak pernah berpikir akan akhirnya, sehingga sangat dalamlah tanah kami ini mereka jatuhkan, hingga tiada orang yang bisa menghibur ibu-ibu dan anak-anak mereka.
"Ya, Tuhan, lihatlah sengsara kami penghuni tanah tergadai ini, karena para perampok ini membesarkan dirinya!, pandanglah kami, betapa hina kami ini!, apakah ada kesedihan sebesar yang Engkau timpakan kepada bangsa kami?
Engkau, ya Tuhan, telah membuang semua pahlawan-pahlawan yang lahir dari kami, tiada lagi yang menjadi benteng dan sandaran pertahanan para orang tua dan anak-anak kecil. Karena inilah aku menangis, mataku tiada henti mencucurkan air mata, karena Engkau menjauhkan penghibur yang dapat menyegarkan jiwa mereka yang lapar dan haus, yang kedinginan dan sakit, bingunglah anak-anak kota ini mencari tempat berteduh, karena terlampau kuat musuh kami.

Jawa mengulurkan tangannya, tetapi tak ada orang yang menyambutnya dan memberi tepukan di pundaknya, kami telah menjadi najis di tengah-tengah bangsa-bangsa.
Ya,Tuhan, lihatlah, betapa besar ketakutanku, betapa gelisah jiwaku, hatiku terombang ambing, karena sudah melampaui batas aku memberontak; di luar, keturunanku diburu dan dibinasakan oleh pedang, di dalam rumah mereka mati oleh penyakit busung lapar.

Ah, betapa aku telah melihat awan kelam menyelubungi Kalimantan, tanpa belas kasihan musuh memusnahkan segala ladang orang-orang pedalaman, dalam amarah yang berapi-api mereka menghancurkan benteng-benteng penduduk.
Mereka mencampakkan dan mencemarkan kerajaan itu beserta pemimpin-pemimpin nya. Kulihat gapura-gapuranya terbenam ke dalam tanah; mereka juga menghancurkan dan meluluhkan palang-palang pintu kota.

Apa yang dapat kunyatakan kepadamu hai Papua? dengan apa aku dapat menghiburmu? Karena luas bagaikan laut reruntuhanmu, siapa yang akan memulihkan engkau dan seluruh bangsamu?
Pemimpin pemimpin mu melihat bagimu penglihatan tentang masa depan yang dusta dan hampa. Mereka tidak menyatakan kesalahanmu, guna memulihkan engkau kembali. Mereka mengeluarkan bagimu ramalan-ramalan yang dusta dan menyesatkan.
"Inikah kota yang dulu disebut orang sebagai kota yang paling indah, kesukaan dunia semesta?” “Inikah Atlantis yang Hilang itu?”
Terhadap engkau semua musuhmu mengangakan mulutnya. Mereka bersuit-suit dan bernyanyi riang: "Kami telah memusnahkannya!", kata mereka, "Nah, inilah harinya yang kami nanti-nantikan, kami mengalami kejayaan, kami melihat emas dan madu yang berlimpah!"Mereka merusak tanpa belas kasihan.

Berserulah kepada Tuhan dengan nyaring, hai, puteri-puteri Sulawesi, cucurkanlah air mata bagaikan sungai siang dan malam; janganlah kau berikan dirimu istirahat, janganlah matamu tenang!
Bangunlah, mengeranglah, curahkanlah isi hatimu di hadapan Tuhan, angkatlah tanganmu kepada-Nya demi hidup anak-anakmu, yang jatuh pingsan karena lapar di lorong dan sudut-sudut jalan!

***
Akulah orang yang melihat kesengsaraan ini, seribu tahun yang lalu..
Seorang Panglima perang Raja negeri barbar menangkapku. Ia menghalau dan membawa aku ke dalam kegelapan yang mengerikan.
Sesungguhnya, aku dipukulnya berulang-ulang dengan tangannya sepanjang hari. Ia menyusutkan daging dan kulitku, tulang-tulangku dipatahkannya.
Panglima itu menempatkan aku di dalam sel gelap seperti orang yang sudah lama mati dan menutup segala jalan ke luar bagiku, Ia mengikat aku dengan rantai yang besar,
Ia merintangi jalan-jalanku dengan paku dan kawat berduri, dan menjadikannya tidak terlalui.
Aku menjadi tertawaan bagi segenap bangsaku, menjadi lagu ejekan mereka sepanjang hari
Sampai aku lupa akan kebahagiaan.
Tapi kamu, para sahabatku yang setia,
Ingatlah akan sengsaraku dalam pengembaraanku, tentang tipu muslihat dan racun itu.
Jiwaku selalu teringat semua hal keji itu dan kini tertanam dalam diriku.
Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap:
Adalah baik bagi seorang pria yang lahir dari tiap jengkal tanah ini memikul tanggung jawab pada masa mudanya,
Biarlah ia memberikan pipinya kepada yang menamparnya, biarlah ia kenyang dengan cercaan,
Karena tidak untuk selama-lamanya Tuhan mengucilkan
Mengapa orang hidup mengeluh? Biarlah setiap orang mengeluh tentang dosanya!
Aku dan para sahabatku telah mendurhaka dan memberontak, tetapi kalian tidak akan mengampuni, berjanjilah..
Kalian telah melihat segala dendam mereka, segala rancangan mereka terhadap aku dan negeri ini"
Lidah bayi melekat pada langit-langit mulutnya karena haus; anak-anak meminta potongan-potongan roti, tetapi tak seorang pun yang memberi.
Mereka yang biasa menikmati makanan yang enak-enak, dan hidup dalam kemewahan, akan merangkak mencari makanan di timbunan sampah, dan mati kelaparan di jalan-jalan.
Pengkhianatan putera-puteri bangsaku melebihi dosa Sodom, yang dalam sekejap mata akan diobrak-abrik kekuatan keadilan, tanpa ada tangan kita yang akan memukulnya.
Lebih bahagia kami yang gugur karena pedang dari pada mereka yang tewas karena lapar, yang merana dan mati sebab tak ada hasil ladang.
Aku menyaksikan sendiri mereka mati kelaparan!

Aku Pulang
Dalam perjalanan kami, orang-orang berkata, "Pergi dari sini! kafir! najis!"
Maka pergilah aku dan pengikutku mengembara dari bangsa ke bangsa, tapi tidak diizinkan menetap oleh siapa pun juga.
Mata kami selalu terjaga merindukan pertolongan, tetapi sia-sia, dan dari menara penjagaan kami menanti-nantikan suatu bangsa yang tak kunjung datang menolong.
Para musuh mengintai langkah-langkah kami, sehingga kami tak dapat berjalan di siang hari;
Akhir hidup kami mendekat, hari-hari kami sudah genap, ya, akhir hidup kami sudah tiba
Pengejar-pengejar kami lebih cepat dari kuda sumbawa dan burung rajawali di angkasa, mereka memburu kami di atas gunung-gunung, menghadang kami di lembah-lembah.
Kami hanya menunggu, Aku mengangkat pedang untuk terakhir kalinya, hingga semua itu hilang begitu saja.
Dan itu menjadi hari terakhirku melihat megahnya gunung dihadapan ku, tempatku meneteskan darah terakhir, tempat dagingku menjadi tanah dan kembali menyatu dengan Ophir, gunung yang Agung itu.
Tidak kurasakan lagi pedih dan kesepian. Kini aku berdiam dikaki singgasana Sang Gunung.

DOA Untuk NUSA

Tapi sekalipun aku sudah berdiam diri disini, dari sini aku tidak bisa tenang, menyaksikan kekacauan negeri tempat aku lahir, musnah akibat pembangkangan nenek moyang dan kaumku kepada Sang Penguasa.
Untuk :
Sumatera,
Kalimantan ,
Sulawesi ,
Papua ,
Jawa 
Gugusan Nusa Tenggara ,
Bali 
Maluku ..
“Ingatlah, ya Tuhan, apa yang terjadi atas kami, pandanglah dan lihatlah akan kehinaan kami”
“Milik pusaka kami beralih kepada orang lain, rumah-rumah kami kepada orang asing”
“Air kami kami minum dengan membayar, kami mendapatkan kayu dengan uang, dan itu dari tanah kami sendiri”
“Kami menjadi anak yatim, tak punya bapa, dan ibu kami seperti janda”
“Bapak-bapak kami berbuat dosa, mereka tak ada lagi, dan kami yang menanggung kedurjanaan mereka”
“Kulit kami membara laksana perapian, karena nyerinya kelaparan”
“Pemuda-pemuda harus memikul batu kilangan, anak-anak terjatuh karena beratnya pikulan kayu”
“Pemimpin-pemimpin digantung oleh tangan seteru, para tetua kami tidak lagi dihormati”
“Para anak-anak tidak lagi di bermain di tanah lapang, para pemuda berhenti main kecapi”
“Lenyaplah kegirangan hati kami, tari-tarian kami berubah menjadi perkabungan”
“Mahkota telah jatuh dari kepala kami. Wahai kami, karena kami telah berbuat dosa!”
“Karena inilah hati kami sakit, Bangsa ini sudah berakhir...”
“Mengapa Engkau melupakan kami selama-lamanya, meninggalkan kami demikian lama?”
“Atau, apa Engkau sudah membuang kami sama sekali? Sangat murkakah Engkau terhadap kami?”

0 komentar:

Posting Komentar

sealkazzsoftware.blogspot.com resepkuekeringku.com